KeSehat an
Jumat, 13 Januari 2017
Minggu, 08 Januari 2017
ISBD ANALISIS MAHASISWA ADAT ISTIADAT YANG BERTENTANGAN DENGAN KESEHATAN
ANALISIS
MAHASISWA TENTANG ADAT ISTIADAT YANG BERTENTANGAN DENGAN KESEHATAN
DI
TIMOR TENGAH SELATAN
Disusun
Oleh:
Intan
Nurin Apsari
D-III
KEBIDANAN
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
PESANTREN TINGGI DARUL ‘ULUM
2016/2017
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Timor
Tengah Selatan (TTS) merupakan perbukitan dengan curah hujan yang lebih tinggi
dibandingkan kabupaten lainnya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ironisnya,
kabupaten yang dikenal “sangat tahan pangan” ini warga masyarakatnya “jauh dari
sehat”. Masyarakat Timor Tengah Selatan (TTS) ini masih berkutat pada pemenuhan
kebutuhan yang sangat dasar yaitu, makan dan minum. Sebagian lagi sudah
berpikir tentang bagaimana melindungi tubuh dari panas dan hujan, serta
memiliki rumah yang layak huni.
Pendidikan
bukan menjadi prioritas utama bagi masyarakat, terutama kaum perempuan. Kemampuan
baca tulis menjadi langka. Menurut data Badan Pusat Statistik mayoritas warga
hanya lulus Sekolah Dasar. Bahkan jumlah warga yang tidak bersekolah cenderung
lebih tinggi lagi. Letak Masyarakat Timor Tengah Selatan (TTS) yang sangat
strategis, kondisi alam, dan kondisi sumber daya manusia yang ada berpengaruh
pada ragam budayanya termasuk yang berkaitan dengan bidang kebidanan. Mereka
perlu disadarkan akan pengaruh budaya yang ada. terlebih yang berkaitan dengan kesehatan
bahwa tidak semua kebudayaan yang dimilikinya berdampak positif.
B. Rumusan Masalah
Melihat
uraian singkat diatas dapat kita Tarik beberapa poin permasalahan yang perlu
kita rumuskan antara lain :
1. Jelaskan
kebudayaan menurut para ahli?
2. Apa
yang dimaksud budaya dan kebudayaan?
3. Budaya
apa saja yang bertentangan dengan kesehatan di Timor Tengah Selatan?
4. Bagaimana
tanggapan kita sebagai tenaga kesehatan menyikapi hal tersebut?
C.
Tujuan penulisan
Makalah ini saya susun untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah pendidikan Ilmu Sosial Budaya Dasar serta
mempelajari, memahami, mengkaji, mengkritisi lebih dalam lagi tentang adat
istiadat atau budaya yang bertentangan dengan kesehatan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Kebudayaan Menurut Para Ahli
1)
Koentjaraningrat mengatakan bahwa
pengertian kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil yang
harus didapatkannya dengan belajar dan semua itu tersusun dalam kehidupan
masyarakat.
2)
Herskovits memandang bahwa kebudayaan
merupakan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi
yang lain yang kemudian disebut sebagai superorganik.
3)
Andreas Eppink
Kebudayaan mengandung bentuk dari keseluruhan pengertian nilai sosial, norma
sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius,
dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang
menjadi ciri khas suatu masyarakat.
4)
Edward Burnett
Tylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan dari yang kompleks yang didalamnya terkandung
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
2.2 Pengertian Budaya
dan Kebudayaan
Budaya adalah suatu
cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang,
dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur
yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni.
Kata "kebudayaan berasal dari (bahasa
Sanskerta) yaitu "buddayah" yang merupakan bentuk jamak dari kata
"budhi" yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai
"hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal". Pengertian
Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan,
seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan.
2.3 Budaya yang
bertentangan dengan kesehatan di Timor Tengah Selatan (TTS)
1.
Budaya melahirkan di Rumah Bulat
RUMAH
BULAT merata digunakan oleh masyarakat Timor Tengah Selatan (TTS)
di Nusa Tenggara Tmur (NTT). Ada banyak masalah kesehatan di balik rumah-rumah
adat ini. Dampaknya negatif terhadap kesehatan. Tapi adat menghambat perbaikan
situasi kesehatan. Apa sebenarnya rahasia di balik ’rumah bulat’, sehingga masyarakat
tetap mempertahankannya?
TTS merupakan wilayah perbukitan dengan curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan kabupaten lainnya di NTT. Ironisnya, kabupaten yang dikenal “sangat tahan pangan” ini warga masyarakatnya “jauh dari sehat”. Diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), malaria, dan penyakit kulit scabies adalah penyakit yang senantiasa menempati urutan teratas.
Masyarakat TTS masih berkutat pada pemenuhan kebutuhan yang sangat dasar, yaitu makan dan minum. Sebagian lagi sudah berpikir tentang bagaimana melindungi tubuh dari panas dan hujan, serta memiliki rumah yang layak huni. Pendidikan bukan menjadi prioritas utama bagi masyarakat. Kemampuan baca-tulis menjadi langka. Menurut data Badan Pusat Statistik, mayoritas warga hanya lulus sekolah dasar. Bahkan jumlah warga yang tak sekolah cenderung lebih tinggi lagi.
Untuk sampai ke TTS kira-kira dibutuhkan waktu dua sampai tiga jam dengan mobil dari Kupang. Jika menggunakan bus umum diperlukan biaya Rp20.000 sekali jalan. Menjangkau daerah ini tidaklah sulit. Sebagian besar jalan utamanya sudah beraspal.
Sesekali di sebelah kiri dan kanan jalan akan terlihat rumah penduduk yang jaraknya saling berjauhan satu dari yang lain. Uniknya setiap keluarga memiliki dua jenis bangunan rumah. Bangunan pertama tampak lebih modern, berbentuk persegi dan terbuat dari kombinasi batu, papan dan seng. Bangunan kedua tampak seperti jamur merang jika dilihat dari ketinggian. Masyarakat menyebutnya sebagai Rumah Bulat, salah satu rumah adat yang masih dipertahankan.
Dinding rumah bulat (umek bubu) melingkar dengan garis tengah antara tiga sampai lima meter. Atapnya yang berbentuk seperti kepala jamur merang terbuat dari rumput alang-alang. Ujung alang-alangnya hampir menyentuh permukaan tanah. Dindingnya terbuat dari potongan-potongan kayu dan bambu. Pintunya setengah lonjong dengan ketinggian kurang satu meter. Untuk masuk orang dewasa harus membungkukkan badan terlebih dahulu.
Membangun rumah bulat tidaklah sukar. Biayanya bisa dijangkau oleh masyarakat, karena semua bahan dasarnya tersedia di hutan dan kebun. ”Untuk membuat atap alang-alang yang bisa menutupi seluruh rumah cukup dengan Rp250 ribu saja. Atap tersebut bisa bertahan kira-kira 10 tahunan,” jelas Simeon Selan, seorang petani dari kecamatan Polen, TTS, yang hanya memiliki luas lahan seperempat hektar dan pendapatan tak menentu.
Rumah bulat digunakan masyarakat untuk menyimpan jagung dengan cara digantung pada penyanggah atap dan dipanaskan dengan bara api agar tidak rusak dan kualitasnya tidak menurun. Selain sebagai lumbung pangan warga di kala musim paceklik, rumah bulat juga difungsikan sebagai dapur (umumnya digunakan kayu bakar) dan tempat penyimpanan perkakas rumah tangga. Dapat dikatakan rumah bulat ini sangat ekonomis, karena digunakan untuk berbagai macam keperluan rumah tangga.
Dalam adat masyarakat Meto (atoin meto) yang merupakan masyarakat asli TTS, rumah bulat diasosiasikan dengan peranan perempuan dan sikap kerendahan hati. Berbeda dengan Lopo, bangunan khas lainnya yang juga terbuat dari bahan dasar rumput alang-alang dan bambu, tak berdinding (terbuka) dan beratap tinggi. Lopo dikaitkan dengan peranan laki-laki dan lambang perlindungan serta pengayoman terhadap penghuninya. Adat Meto juga menyebutkan bahwa zaman dahulu kala, setiap lelaki penakut akan dimasukkan ke dalam rumah bulat.
Seorang ibu, Yustina Mobanu, yang tinggal di desa Konbaki, kecamatan Polèn mengakui bahwa kelahiran keempat anaknya dilakukan di dalam rumah bulat dengan proses panggang. “Saat melahirkan saya dibantu mama angkat yang sudah pengalaman sebagai dukun di dalam rumah bulat,” ungkapnya polos. Ia juga menjelaskan, proses panggang ini dilakukannya selama 40 hari. Asap memenuhi seluruh ruang dalam rumah bulat. Sebab, kecuali untuk memasak dengan kayu bakar, keluarga ini juga menghangatkan tubuh ibu yang baru saja melahirkan dengan cara membuat bara api dan kemudian meletakkan arang panasnya di bawah kolong tempat tidur ibu yang baru saja melahirkan. Proses melahirkan juga dilakukan di tempat tidur itu.
Proses panggang dipercaya masyarakat menjadi penangkal dari sakit berat. Ada pula ketakutan dari para orang tua: jika proses ini tak dilakukan, kondisi badan anak akan lembek dan tak kuat, bahkan akan menyebabkan kegilaan pada si ibu.
Rumah bulat menjadi ciri khas adat dan budaya orang Timor yang masih dipertahankan sampai saat ini, padahal sebetulnya ia juga sumber persoalan. Sulit menemukan rumah bulat berjendela. Lubang angin pun tidak menjadi pertimbangan dalam membangun rumah bulat. Udara dan sinar matahari hanya bisa menerobos dari lubang-lubang kecil pada dinding-dinding bambu.
Sudah tak bisa dipungkiri lagi bahwa ada hubungan erat antara tingginya jumlah penderita gangguan pernafasan dengan penggunaan rumah bulat. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan TTS, persentase jumlah penderita ISPA meningkat; 17,1% (2002), 19,1% (2003) dan 26,1% (2004). Disebutkan pula, jumlah penderita ISPA 2004 sudah mencapai 120.480 jiwa.
Buruknya kondisi rumah bulat dan efeknya terhadap penyakit penafasan juga diakui oleh para dokter di beberapa puskesmas. “Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak, karena ada adat dan kebiasaan dari masyarakat di sini bahwa sebelum berumur 40 hari, anak tidak boleh keluar dari rumah bulat,” jelas Dr. Yusni Simbolon, kepala Puskesmas di kecamatan Amanuban Barat. Dr. Suryowati, Kepala Puskesmas di kecamatan Polen yang lebih menyoroti pada proses kelahiran, juga berpendapat serupa. Dia menjelaskan bahwa Setelah melahirkan dipanggang dengan bara api dibawahnya
TTS merupakan wilayah perbukitan dengan curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan kabupaten lainnya di NTT. Ironisnya, kabupaten yang dikenal “sangat tahan pangan” ini warga masyarakatnya “jauh dari sehat”. Diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), malaria, dan penyakit kulit scabies adalah penyakit yang senantiasa menempati urutan teratas.
Masyarakat TTS masih berkutat pada pemenuhan kebutuhan yang sangat dasar, yaitu makan dan minum. Sebagian lagi sudah berpikir tentang bagaimana melindungi tubuh dari panas dan hujan, serta memiliki rumah yang layak huni. Pendidikan bukan menjadi prioritas utama bagi masyarakat. Kemampuan baca-tulis menjadi langka. Menurut data Badan Pusat Statistik, mayoritas warga hanya lulus sekolah dasar. Bahkan jumlah warga yang tak sekolah cenderung lebih tinggi lagi.
Untuk sampai ke TTS kira-kira dibutuhkan waktu dua sampai tiga jam dengan mobil dari Kupang. Jika menggunakan bus umum diperlukan biaya Rp20.000 sekali jalan. Menjangkau daerah ini tidaklah sulit. Sebagian besar jalan utamanya sudah beraspal.
Sesekali di sebelah kiri dan kanan jalan akan terlihat rumah penduduk yang jaraknya saling berjauhan satu dari yang lain. Uniknya setiap keluarga memiliki dua jenis bangunan rumah. Bangunan pertama tampak lebih modern, berbentuk persegi dan terbuat dari kombinasi batu, papan dan seng. Bangunan kedua tampak seperti jamur merang jika dilihat dari ketinggian. Masyarakat menyebutnya sebagai Rumah Bulat, salah satu rumah adat yang masih dipertahankan.
Dinding rumah bulat (umek bubu) melingkar dengan garis tengah antara tiga sampai lima meter. Atapnya yang berbentuk seperti kepala jamur merang terbuat dari rumput alang-alang. Ujung alang-alangnya hampir menyentuh permukaan tanah. Dindingnya terbuat dari potongan-potongan kayu dan bambu. Pintunya setengah lonjong dengan ketinggian kurang satu meter. Untuk masuk orang dewasa harus membungkukkan badan terlebih dahulu.
Membangun rumah bulat tidaklah sukar. Biayanya bisa dijangkau oleh masyarakat, karena semua bahan dasarnya tersedia di hutan dan kebun. ”Untuk membuat atap alang-alang yang bisa menutupi seluruh rumah cukup dengan Rp250 ribu saja. Atap tersebut bisa bertahan kira-kira 10 tahunan,” jelas Simeon Selan, seorang petani dari kecamatan Polen, TTS, yang hanya memiliki luas lahan seperempat hektar dan pendapatan tak menentu.
Rumah bulat digunakan masyarakat untuk menyimpan jagung dengan cara digantung pada penyanggah atap dan dipanaskan dengan bara api agar tidak rusak dan kualitasnya tidak menurun. Selain sebagai lumbung pangan warga di kala musim paceklik, rumah bulat juga difungsikan sebagai dapur (umumnya digunakan kayu bakar) dan tempat penyimpanan perkakas rumah tangga. Dapat dikatakan rumah bulat ini sangat ekonomis, karena digunakan untuk berbagai macam keperluan rumah tangga.
Dalam adat masyarakat Meto (atoin meto) yang merupakan masyarakat asli TTS, rumah bulat diasosiasikan dengan peranan perempuan dan sikap kerendahan hati. Berbeda dengan Lopo, bangunan khas lainnya yang juga terbuat dari bahan dasar rumput alang-alang dan bambu, tak berdinding (terbuka) dan beratap tinggi. Lopo dikaitkan dengan peranan laki-laki dan lambang perlindungan serta pengayoman terhadap penghuninya. Adat Meto juga menyebutkan bahwa zaman dahulu kala, setiap lelaki penakut akan dimasukkan ke dalam rumah bulat.
Seorang ibu, Yustina Mobanu, yang tinggal di desa Konbaki, kecamatan Polèn mengakui bahwa kelahiran keempat anaknya dilakukan di dalam rumah bulat dengan proses panggang. “Saat melahirkan saya dibantu mama angkat yang sudah pengalaman sebagai dukun di dalam rumah bulat,” ungkapnya polos. Ia juga menjelaskan, proses panggang ini dilakukannya selama 40 hari. Asap memenuhi seluruh ruang dalam rumah bulat. Sebab, kecuali untuk memasak dengan kayu bakar, keluarga ini juga menghangatkan tubuh ibu yang baru saja melahirkan dengan cara membuat bara api dan kemudian meletakkan arang panasnya di bawah kolong tempat tidur ibu yang baru saja melahirkan. Proses melahirkan juga dilakukan di tempat tidur itu.
Proses panggang dipercaya masyarakat menjadi penangkal dari sakit berat. Ada pula ketakutan dari para orang tua: jika proses ini tak dilakukan, kondisi badan anak akan lembek dan tak kuat, bahkan akan menyebabkan kegilaan pada si ibu.
Rumah bulat menjadi ciri khas adat dan budaya orang Timor yang masih dipertahankan sampai saat ini, padahal sebetulnya ia juga sumber persoalan. Sulit menemukan rumah bulat berjendela. Lubang angin pun tidak menjadi pertimbangan dalam membangun rumah bulat. Udara dan sinar matahari hanya bisa menerobos dari lubang-lubang kecil pada dinding-dinding bambu.
Sudah tak bisa dipungkiri lagi bahwa ada hubungan erat antara tingginya jumlah penderita gangguan pernafasan dengan penggunaan rumah bulat. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan TTS, persentase jumlah penderita ISPA meningkat; 17,1% (2002), 19,1% (2003) dan 26,1% (2004). Disebutkan pula, jumlah penderita ISPA 2004 sudah mencapai 120.480 jiwa.
Buruknya kondisi rumah bulat dan efeknya terhadap penyakit penafasan juga diakui oleh para dokter di beberapa puskesmas. “Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak, karena ada adat dan kebiasaan dari masyarakat di sini bahwa sebelum berumur 40 hari, anak tidak boleh keluar dari rumah bulat,” jelas Dr. Yusni Simbolon, kepala Puskesmas di kecamatan Amanuban Barat. Dr. Suryowati, Kepala Puskesmas di kecamatan Polen yang lebih menyoroti pada proses kelahiran, juga berpendapat serupa. Dia menjelaskan bahwa Setelah melahirkan dipanggang dengan bara api dibawahnya
Proses
panggang di rumah bulat juga dipercaya masyarakat menjadi penangkal dari sakit
berat terlebih wanita sehabis melahirkan. Ada pula ketakutan dari para orang
tua jika proses ini tak dilakukan kondisi badan anak akan lembek dan tak kuat, bahkan
akan menimbulkan kegilaan pada si ibu. Namun pada kenyataannya hal ini
berakibat buruk. Bukan hanya kemungkinan akan terbakarnya tubuh sang ibu maupun
bayi, namun berpengaruh terhadap kesembuhan luka-luka pada tubuh ibu setelah
melahirkan. kebiasaan masyarakat yang mengharuskan perempuan
melahirkan di dalam rumah bulat yang penuh debu dari tungku dan asap akan
menyebabkan bayi dan ibunya mudah terkena ISPA.
2.
. Tubuh Ibu dikompres dengan air panas
Setelah
seorang ibu melahirkan,ia kemudian dikompres menggunakan air mendidih atau air
panas.Dikompres pula dengan cara menekan-nekan perut dan bagian luka yang ada
setelah melahirkan. Seperti halnya dipanggang, hal ini bisa menimbulkan infeksi
pada organ tubuh yang luka, terlebih organ yang sangat sensitif(daerah
kemaluan) sang ibu. kesembuhan luka-lukanya menjadi butuh waktu yang relatif
lama. Ini merupakan salah satu kekerasan fisik terhadap kaum ibu.
3.
Tidak boleh makan daging, sayur santan,dan
lain-lain
Rendahnya tingkat pendapatan ekonomi keluarga dan
masih banyak lagi praktik lokal yang sangat merugikan ibu, seperti pantang makanan
tertentu (ikan,telur,cumi.ayam,udang,kepiting,sayur-sayuran) yang sebenarnya sangat
dibutuhkan oleh tubuh untuk proses pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
kandungan ibu maupun setelah menjadi bayi dan untuk proses metabolisme ibu
serta sebagai pengganti energi setelah melahirkan dan laktasikelak.Saat hamil
dan melahirkan seorang perempuan harus tetap memperhatikan makanan yang ia
konsumsi agar bayi yang dilahirkan dalam kondisi sehat dan terpenuhi segala
macam nutrisi untuk tumbuh kembang sang bayi.hal pertama yang harus
diperhatikan adalah seorang perempuan hamil harus memgkonsumsi makanan yang
mengandung asam folat dan vitamin B6 kompleks. Kedua jenis makanan ini bahkan
harus dikonsumsi sebelum seorang perempuan hamil atau saat yang bersangkutan
merencanakan hamil. Asam folat dan
vitamin B kompleks diperlukan saat pembentukan sel-sel saraf terutama pada masa
awal kehamilan. Peningkatan konsumsi kedua zat ini terbukti dapat meningkatkan
pertumbuhan bayi secara signifikan. Zat lain dari makanan yang dibutuhkan
perempuan hamil adalah protein.Sebagai zat pembangun, protein terutama
dibutuhkan saat pembentukan sel tubuh dan sel darah. Jenis makanan yang banyak
mengandung protein adalah daging, telur dan kacang-kacangan.Selain mengandung
protein, daging mengandung zat besi yang berguna untuk pembentukkan sel dan
mencegah terjadinya anemia baik bagi sang ibu maupun bayinya. Perempuan yang
sedang mengandung juga harus mengkonsunsi karbohidrat yang cukup. Karbohidrat
merupakan bahan bakar pembentuk anenergi untuk aktifitas sehari-hari. Saat
hamil, peningkatan berat badan dan perubahan hormonal menyebabkan menyebabkan
seorang perempuan membutuhkan energi ekstra. Meskipun demikian, perempuan hamil
juga harus tetap menjaga keseimbangan energi dengan cara rutin melakukan
olahraga yang khusus diperuntukkan bagi perempuan hamil. Di samping protein dan
karbohidrat, perempuan yang sedang hamil juga harus senantiasa mengkonsumsi
makanan yang mengandung vitamin dan mineral. seperti yang kita ketahui bersama,
kalsium merupakan bahan yang sangat penting untuk pembentukkan tulang, juga
untuk fungsi sel-sel saraf. Vitamin A,C,B12,D dan lain-lain diperlukan untuk
menjaga kesehatan kulit dan tulang serta menjaga fungsi sel-sel saraf. Vitamin-vitamin
ini dengan mudah kita temukan pada sayur-sayuran dan buah-buahan.
4.
Tidak memberikan ASI Pertama pada bayi.
Kolostrum
adalah ASI berwarna kekuningan yang dihasilkan tiga hari pertama setelah
melahirkan, sebaliknya diberikan sedini mungkin setelah bayi lahir.
Karena
warnanya yang kekuningan membuat masyarakat TTS terutama kaum ibu menyimpulkan
bahwa ASI pertama/kolostrum tersebut merupakan ASI yang kotor atau mengandung
banyak kuman, sehingga ASI tersebut dibuang
dan tidak diberikan kepada bayi yang baru lahir. Padahal manfaat
kolostrumsangat besar antara lain:
A. Kolostrum
berkhasiat khusus untuk bayi dan komposisinya mirip dengan nutrisi yang diterima
bayi selama di dalam rahim.
B. Kolostrum
bermanfaat untuk mengenyangkan bayi pada hari-hari pertama hidupnya
C. Seperti
imunisasi, kolostrum memberi antibodi kepada bayi (perlindungan terhadap
penyakit yang sudah pernah dialami sang ibu sebelumnya).
D. Kolostrum
juga mengandung sedikit efek pencahar untuk menyiapkan dan membersihkan sistem
pencernaan bayi dari mekonium.
E. Kolostrum
juga mengurangi konsentrasibilirubin (yang menyebabkan bayi kuning) sehingga
bayi lebih terhindar dari jaundice.
F. Kolostrum
juga membantu pembentukan bakteri yang bagus untuk pencernaan Kolostrum adalah
konsentrasi tinggi karbohidrat, protein, dan zat kebal tubuh. Zat kebal yang
ada antara lain adalah: IgA dan sel darah putih. Kolostrum amat rendah lemak, karena
bayi baru lahir memang tidak mudah mencerna lemak.1 sendok teh kolostrum memiliki
nilai gizi sesuai dengan kurang lebih 30 cc susu formula. Usus bayi dapat
menyerap1 sendok teh kolostrum tanpa ada yang terbuang, sedangkan untuk 30 cc
susu formula yang diisapnya, hanya satu sendok teh sajalah yang dapat diserap
ususnya.
Pada
hari pertama mungkin hanya diperoleh 30 cc. Namun, dalam setiap tetesnya
terdapat berjuta-juta satuan zat antibodi. SIgA adalah antibodi yang hanya
terdapat dalam ASI. Kandungan SIgA dalam kolostrum pada hari pertama adalah 800
gr/100 cc. Selanjutnya mulai berkurang menjadi 600gr/100 cc pada hari kedua,
400 gr/100 cc pada hari ketiga, dan 200 gr/100 cc pada hari keempat. Maka dari
itu, kolostrum memiliki fungsi yang sangat vital dalam 10 hari pertama
kehidupan bayi Meskipun nantinya anda tidak dapat menyusui bayi dalam jangka
waktu yang lama, sebisa mungkin kolostrum ini harus diberikan kepada bayi
terlebih dahulu.
2.4 Tanggapan Tenaga
Kesehatan Menyikapi hal tersebut
individu
sebagai masyarakat, diharapkan mampu mengembangkan budaya yang ada menjadi
budaya yang efeknya lebih ke arah positif. Jika resiko dari kebiasaan atau
budaya masyarakat yang ada hanya merugikan, buat apa dikembangkan? Agar tidak
terjadinya diskriminasi oleh budaya-budaya yang ada maka masyarakat diharapkan
memiliki sikap-sikap sebagai berikut:
a.
Penerimaan secara terbuka (open minded),
sikap ini merupakan langkah pertama dalam upaya menerima pengaruh modernisasi
dan globalisasi. Sikap terbuka akan membuat kita lebih dinamis, tidak
terbelenggu hal-hal lama yang bersikap kolot, dan akan lebih mudah menerima
perubahan dan kemajuan zaman.
b.
Mengembangkan sikap antisipatif dan
selektif; sikap ini merupakan kelanjutan dari sikap terbuka. Setelah kita dapat
membuka diri dari hal-hal baru, langkah selanjutnya adalah kita harus memiliki
kepekaan (antisipatif) dalam menilai hal-hal yang akan atau sedang
terjadikaitannya dengan pengaruh modernisasi dan globalisasi. Sikap antisipatif
dapat menunjukkan pengaruh yang timbul akibat adanya arus globalisasi dan
modernisasi. Setelah kita mampu menilai pengaruh yang terjadi, maka kita harus
mampu memilih (selektif) pengaruh manayang baik bagi kita dan pengaruh mana
yang tidak baik bagi kita.
c.
Adaptif, sikap ini merupakan kelanjutan
dari sikap antisipatif dan selektif. Sikap adaptif merupakan sikap mampu
menyesuaikan diri terhadap hasil perkembangan modernisasi danglobalisasi. Tentu
saja penyesuaian diri yang dilakukan bersifat selektif, artinya memiliki
pengaruh positif bagi si pelaku. Sebagai pelaku kesehatan, yang perlu dilakukan
adalah melakukan promosi kesehatan. Promosi kesehatan membantu masyarakat
menjadikan gaya hidup mereka sehat optimal. Kesehatan yang optimal
didefinisikan sebagai keseimbangan kesehatan fisik, emosi, sosial, spiritual,
dan intelektual. Ini bukan sekedar pengubahan gaya hidup saja, namun berkairan
dengan pengubahan lingkungan yang diharapkan dapat lebih mendukung dalam membuat keputusan yang sehat. Pengubahan gaya
hidup dapat difasilitasi melalui penggabungan:
1.
menciptakan lingkungan yang mendukung
2.
mengubah perilaku, dan
3.
meningkatkan kesadaran.
Salah
satu program kesehatan masyarakat adalah promosi kesehatan yang seharusnya
merupakan kegiatan inti dari program lain, yaitu preventif, kuratif dan rehabilitatif. Berbagai upaya promosi
kesehatan telah dilakukan sejak dulu dengan berbagai bentuk kegiatan, seperti
penyuluhan langsung kepada masyarakat, bisa juga melalui mediaelektronik
televisi, radio dan media cetak. Berbagai bentuk spanduk, billboard, buku dan lefleat
serta stiker yang berisi pesan-pesan kesehatan sejak dulu sudah diperkenalkan
dan diedarkan di mana-mana.Pelaku medis harus terlibat secara langsung dalam
kehidupan kesehatanmasyarakat, teruama para bidan. Berbagai pengertian mengenai
kesehatan harus dijelaskan secara baik dan hidup sehat sendiri harus
ditunjukkan terlebih dahulu oleh pelaku medis.
Tidak
semua kebiasaan di masyarakat bisa berdampak positif -Kebiasaan atau budaya di
daerah TTS yang berdampak buruk antara lain:
a. Melahirkan
di Rumah Bulat dan dipanggang dengan bara api di bawahnya(sampai 40hari setelah
melahirkan).
b. Tubuh
ibu yang melahirkan dikompres menggunakan air panas ± 100 C.
c. Tidak
boleh makan ikan,cumi(daging),goreng-gorengan,sayur santan dan lain-lain,baik
saat hamil maupun setelah melahirkan.
d. Tidak
memberikan ASI Pertama pada bayi namun dibuang.
Untuk
mengatasi masalah budaya-budaya tersebut maka sebagai anggota masyarakat harus memiliki
sikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan ilmiah dan selektif terhadap budaya-budaya yang ada. Sebagai
pelaku medis, yang dapat dilakukan yaitu promosi kesehatan dengan cara
penyuluhan, pendekatan, menjelaskan secara halus dikit sedikit mengenai dampak
buruknya budaya negatif yang berkembang serta terlibat langsung memperbaiki
budaya yang ada dengan mengajak perlahan menunjukan mana adat yang memang
positif dan mana adat atau budaya yang akan meningkatkan resiko kematian
khususnya di Timor Tengah Selatan bagi ibu dan bayi.
SARAN
1.Kepada
masyarakat Timor Tengah Selatan (TTS) agar lebih mengembangkan pengetahuan
mengenai kesehatan dan cara-cara menjaga kesehatan pribadi maupun anggota
keluarga .Hidup sehat adalah awal dalam membangun negeri sendiri.
2.Kepada
para bidan di daerah TTS agar secara langsung terlibat dan memberikan
penyuluhan mengenai dampak-dampak dari kebiasaan yang berdampak buruk
masyarakat TTS. Masyarakat terutama ibu hamil perlu diberi pengertian mengenai cara-cara
menjalani hidup sehat yang baik dan selektif terhadap budaya yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Arnold, Matthew. 1869.
Culture and Anarchy. New York: Macmillan. Third edition, 1882,available online.
Retrieved: 2006-06-28.Barzilai, Gad. 2003. Communities and Law: Politics and
Cultures of Legahkjkjl Identities.University of Michigan Press.O'Donnell,
Michael, MBA, MPH. "Definition of Health Promotion: Part III: Expanding
theDefinition." American Journal of Health Promotion. Winter 1989, Vol. 3,
No. 3. p. 5.Minkler, M. Ed. Community Organizing & Community Building for
Health. Rutgers StateUniversity Press, 1997.Blog
Selasa, 25 Oktober 2016
Nutrisi Otak Agar Anak Cerdas
Nutrisi Otak Agar Anak Cerdas
Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, berikan ASI seoptimal mungkin untuk si kecil. Sebab ASI terbukti mengandung asam lemak yang dibutuhkan otak untuk bisa berkembang. Dari studi yang dilakukan di The University of Kentucky Chandler Medical Center, Amerika Serikat, terbukti IQ bayi yang diberi ASI jauh lebih tinggi dibanding dengan yang tidak diberi ASI. Dan, pada saat anak mulai diberikan makanan padat, kebutuhan asam lemak itu bisa Anda penuhi dengan memberikan ikan, telur bebek, susu yang diperkaya DHA dan ARA, atau minyak jagung.
Karbohidrat Bahan Bakar Otak Glukosa dari makanan yang kaya karbohidrat merupakan bahan bakar otak yang amat penting agar otak berfungsi optimal. Proses pengolahan informasi dan mengingat dapat berjalan dengan baik dengan terpenuhinya kebutuhan glukosa otak tersebut. Ini semua bisa didapatkan dengan memberikan anak berbagai jenis kacang-kacangan, kentang, buah-buahan seperti pisang, sawo, serta sayur-sayuran misalnya singkong dan daun ubi jalar.
Sedangkan untuk Protein Pembentukan Neurotransmiter adalah senyawa asam amino yang berperan terhadap proses pengolahan informasi di otak. Kadar ini sendiri amat berpengaruh terhadap seberapa banyak protein yang ada dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari Kebutuhan ini bisadidapat dari ikan, daging, keju, yogur dan kacang-kacangan Sedangkan kebutuhan Buah-buahan, Sayur-sayuran yang diperkaya antioksidan amat diperlukan untuk melindungi otak dari proses kerusakan sel-sel otak yang dapat menyebabkan kesulitan dalam mengingat, seperti proses belajarpun jadi lamban.
Hentikan Memberikan Air Putih Pada Bayi! Berbahaya untuk Kesehatannya
Hentikan Memberikan Air Putih Pada Bayi! Berbahaya untuk Kesehatannya
net
TRIBUNNEWS.COM - Selain Air Susu Ibu (ASI),
banyak orangtua memberikan air putih kepada si kecil yang masib berusia
0-6 bulan. Entah seusai menyusui maupun di waktu-waktu lainnya.
Padahal, kebiasaan itu sangat keliru karena berisiko menyebabkan
berbagai dampak kesehatan.
Apa bahayanya? Berikut penjelasan Dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA., CIML, IBCLC, dari Sentra Laktasi Indonesia:
Infeksi Bakteri
* Pemberian air putih pada bayi 0--6 bulan berisiko membuat bayi terinfeksi bakteri jika air yang dipakai tercemar. Utami sendiri pernah mempunyai pengalaman, pasiennya yang berusia sekitar 1 bulan, ibunya melaporkan jika bayinya sering buang air besar hingga belasan bahkan puluhan kali dalam sehari.
Ibunya mengira anaknya mencret karena penyakit, sehingga yang tadinya diberi ASI, kemudian diberikan juga air putih dan susu formula. Hasilnya bayi yang tadinya mencret normal justru pencernaannya terinfeksi bakteri.
Hal ini diketahui dari feses bayi yang mengandung darah. Kemungkinan besar, infeksi itu muncul karena asupan air putih yang diberikan ibunya. Apalagi jika perlengkapan minumnya tidak higienis, juga cara memasaknya tidak tepat dan sudah tercemar bakteri.
2. Ganggu Otak Bayi
Ginjal bayi 0-6 bulan belum berfungsi dengan baik, sehingga jika ia diberi air putih maka air seni akan membawa serta elektrolit dalam darah, misalnya natrium, yang sebenarnya berguna bagi tubuh. Jika kekurangan zat itu, bayi berisiko mengalami kejang.
Semakin banyak elektrolit yang "terbuang", semakin banyak risiko negatif yang dapat dialami. Alhasil, kalau bayi mengeluarkan banyak elektrolit dari semua organ tubuhnya, baik jantung, ginjal atau paru, temasuk otak, maka aktivitas otak dapat terganggu. Gejalanya, bisa berupa suhu tubuh rendah hingga kejang-kejang.
3. Merusak Ginjal
Fungsi ginjal sebagai pengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh belumlah sempurna pada bayi usia 0-6 bulan. Memang pada usia kehamilan 35 minggu, ginjal bayi sudah terbentuk, tapi belum berfungsi dengan baik. Begitu pun setelah bayi lahir. Walau bentuk ginjal sudah sempurna. Hal ini bertahan hingga usia bayi 6 bulan.
Lain halnya pada anak dan orang dewasa, ginjal sudah mengatur asupan cairan masuk dengan yang dikeluarkan. Misal, kalau banyak minum, ginjal akan mengatur sehingga berkemihnya sering. Atau pada saat hawa dingin, akan lebih sering buang air kecil. Sebaliknya, pada cuaca panas, kita cenderung lebih jarang buang air kecil.
Intinya, ginjal mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dalam tubuh, semisal natrium, kalsium, dan lainnya. Tapi jika kejadiannya saat ginjal belum sempurna kerjanya sudah diberi air putih, tubuh bayi akan kelebihan air atau "keracunan" air. Karena air yang masuk tidak bisa diseimbangkan dengan yang dikeluarkan.
4. Keracunan
Memang benar bayi harus cukup minum, tapi bukan minum air putih lo. Sebab bayi usia 6 bulan ke bawah minum air putih justru akan merugikan si bayi itu sendiri. Penelitian Dr. Jennifer Anders darijohn Hopkins Children's Center di Baltimore Amerika Serikat membuktikan, pemberian air pada bayi di bawah enam bulan berisiko mengakibatkan keracunan (intoksikasi).
Menurut Jeniffer, secara naluriah bayi memiliki refleks haus atau keinginan untuk minum. Karena itu, banyak orangtua yang memberikan bayinya tambahan air putih selain ASI. Padahal, ginjal si kecil belum berfungsi dengan baik. Akibatnya, air putih yang diminumnya itu dapat membuat tubuhnya melepaskan sodium (mineral yang dibutuhkan untuk proses metabolisme tubuh).
Padahal, kehilangan sodium dapat memengaruhi aktivitas otak. Ujungujungnya, bayi akan mengalami gejala keracunan, di antaranya suhu tubuh rendah, wajah membengkak dan bahkan kejang-kejang. Lantaran itu, Jennifer menegaskan, bayi yang minum ASI tidak perlu mengonsumsi air putih. Untuk bayi 0-6 bulan cukup ASI.
Apa bahayanya? Berikut penjelasan Dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA., CIML, IBCLC, dari Sentra Laktasi Indonesia:
Infeksi Bakteri
* Pemberian air putih pada bayi 0--6 bulan berisiko membuat bayi terinfeksi bakteri jika air yang dipakai tercemar. Utami sendiri pernah mempunyai pengalaman, pasiennya yang berusia sekitar 1 bulan, ibunya melaporkan jika bayinya sering buang air besar hingga belasan bahkan puluhan kali dalam sehari.
Ibunya mengira anaknya mencret karena penyakit, sehingga yang tadinya diberi ASI, kemudian diberikan juga air putih dan susu formula. Hasilnya bayi yang tadinya mencret normal justru pencernaannya terinfeksi bakteri.
Hal ini diketahui dari feses bayi yang mengandung darah. Kemungkinan besar, infeksi itu muncul karena asupan air putih yang diberikan ibunya. Apalagi jika perlengkapan minumnya tidak higienis, juga cara memasaknya tidak tepat dan sudah tercemar bakteri.
2. Ganggu Otak Bayi
Ginjal bayi 0-6 bulan belum berfungsi dengan baik, sehingga jika ia diberi air putih maka air seni akan membawa serta elektrolit dalam darah, misalnya natrium, yang sebenarnya berguna bagi tubuh. Jika kekurangan zat itu, bayi berisiko mengalami kejang.
Semakin banyak elektrolit yang "terbuang", semakin banyak risiko negatif yang dapat dialami. Alhasil, kalau bayi mengeluarkan banyak elektrolit dari semua organ tubuhnya, baik jantung, ginjal atau paru, temasuk otak, maka aktivitas otak dapat terganggu. Gejalanya, bisa berupa suhu tubuh rendah hingga kejang-kejang.
3. Merusak Ginjal
Fungsi ginjal sebagai pengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh belumlah sempurna pada bayi usia 0-6 bulan. Memang pada usia kehamilan 35 minggu, ginjal bayi sudah terbentuk, tapi belum berfungsi dengan baik. Begitu pun setelah bayi lahir. Walau bentuk ginjal sudah sempurna. Hal ini bertahan hingga usia bayi 6 bulan.
Lain halnya pada anak dan orang dewasa, ginjal sudah mengatur asupan cairan masuk dengan yang dikeluarkan. Misal, kalau banyak minum, ginjal akan mengatur sehingga berkemihnya sering. Atau pada saat hawa dingin, akan lebih sering buang air kecil. Sebaliknya, pada cuaca panas, kita cenderung lebih jarang buang air kecil.
Intinya, ginjal mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dalam tubuh, semisal natrium, kalsium, dan lainnya. Tapi jika kejadiannya saat ginjal belum sempurna kerjanya sudah diberi air putih, tubuh bayi akan kelebihan air atau "keracunan" air. Karena air yang masuk tidak bisa diseimbangkan dengan yang dikeluarkan.
4. Keracunan
Memang benar bayi harus cukup minum, tapi bukan minum air putih lo. Sebab bayi usia 6 bulan ke bawah minum air putih justru akan merugikan si bayi itu sendiri. Penelitian Dr. Jennifer Anders darijohn Hopkins Children's Center di Baltimore Amerika Serikat membuktikan, pemberian air pada bayi di bawah enam bulan berisiko mengakibatkan keracunan (intoksikasi).
Menurut Jeniffer, secara naluriah bayi memiliki refleks haus atau keinginan untuk minum. Karena itu, banyak orangtua yang memberikan bayinya tambahan air putih selain ASI. Padahal, ginjal si kecil belum berfungsi dengan baik. Akibatnya, air putih yang diminumnya itu dapat membuat tubuhnya melepaskan sodium (mineral yang dibutuhkan untuk proses metabolisme tubuh).
Padahal, kehilangan sodium dapat memengaruhi aktivitas otak. Ujungujungnya, bayi akan mengalami gejala keracunan, di antaranya suhu tubuh rendah, wajah membengkak dan bahkan kejang-kejang. Lantaran itu, Jennifer menegaskan, bayi yang minum ASI tidak perlu mengonsumsi air putih. Untuk bayi 0-6 bulan cukup ASI.
Cara Merawat Wajah Secara Alami
Cara Merawat Wajah Secara Alami, Putih Dan Bebas Jerawat
Setiap orang pasti ingin mempunyai wajah yang sehat dan bersih, sehingga tidak sedikit pula biaya yang dikeluarkan untuk melakukan perawatan wajah. Mulai dari perawatan ke salon, klinik bahkan sampai ke dokter kecantikan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Cara Merawat Wajah
Sebenarnya cara merawat wajah tidak susah, hanya tergantung bagaimana cara kita merawatnya dan membersihkannya. Semua bisa dilakukan dengan mudah jika anda telah mengetahui jenis kulit dan produk kecantikan yang cocok. Sehingga kulit wajah akan mendapatkan perawatan yang tepat dan terbebas dari komedo dan jerawat yang mengganggu.
Maka perawatan yang menggunakan bahan-bahan alami tak jarang menjadi pilihan utama. Hasilnya pun kebanyak lebih memuaskan dari pada perawatan dengan bahan kimia. Selain itu kulit wajah akan terbebas dari efek samping yang dapat merusak kulit.Pada kesempatan ini kami akan memberikan informasi mengenai cara merawat wajah secara alami, putih dan bebas jerawat.
Hal Mendasar Dalam Perawatan Wajah
- Sebelum menyentuh daerah wajah, sebaiknya cucilah tangan terlebih dahulu dengan air bersih agar terbebas dari kuman dan bakteri.
- Sebaiknya biasakanlah untuk membersihkan wajah dengan pembersih dan penyegar yang cocok dengan jenis kulit sahabat, setiap pagi dan malam, atau setiap kali keluar dari rumah.
- Rajinlah mencuci muka setiap kulit wajah terasa kering atau saat pulang dari bepergian.
- Selalu pakai pelembab wajah setiap akan beraktifitas diluar rumah, agat kulit wajah tetap terjaga dan terbebas dari sinar ultraviolet (UV) yang dapat menyebabkan flek hitam.
- Sebaiknya luangkanlah waktu sekitar 2-3 menit setiap malam, untuk memijat kulit wajah setiap sebelum tidur. Hal tersebut dilakukan agar mengilangkan letih pada wajah dan memberikan warna kulit agar tetap sehat dan cerah.
- Biasakanlah menggunakan masker wajah minimal 2 kali dalam 1 minggu, agar kotoran yang menempel pada wajah akan terangkat dan wajah akan menjadi lebih bersih dan segar.
- Perbanyaklah mengkonsumsi air putih setiap hari, minimal 8 gelas perhari agar kulit wajah tetap terlihat cerah dan segar.
- Minumlah Vitamin E setiap hari untuk menjaga kesehatan kulit dari dalam.
- Olahraga secara teratur, agar kulit tetap kencang dan tubuh pun akan terbebas dari berbagai penyakit.
Bahan Alamai untuk Merawat Wajah
Setelah mengetahui cara merawat wajah diatas, sebaiknya anda juga bisa mencoba cara merawat wajah secara alami berikut ini :Merawat Wajah dengan Jeruk Nipis
Jeruk nipis mempunyai kandungan Vitamin C dan zat anti oksidan yang bermanfaat untuk mengecilkan pori-pori, menghaluskan dan mencerahkan kulit wajah. Caranya juga sangat mudah hanya dengan membelah jeruk nipis menjadi 2 bagian, setelah itu peras dan ambil airnya, lalu oleskan pada kulit wajah secara merata. Diamkan kurang lebih selama 10 – 20 menit, kemudian cucilah wajah dengan air hangat, dan lanjutkan membasuh wajah dengan air dingin.Merawat Wajah dengan Apel
Buah apel mempunyai manfaat untuk mengurangi kelebihan minyak pada wajah, sehingga dapat digunakan dalam merawat muka. Caranya adalah hancurkan buah apel dengan menggunakan blender, sebaiknya jangan menambahkan air sedikitpun pada saat apel di blender. Setelah itu oleskan pada wajah selama 30 menit, lalu bilaslah dengan air bersih.Tomat Untuk Merawat Wajah
Tomat kaya akan zat anti oksidan yang dapat membantu mengatasi iritasi pada kulit akibat sinar matahari, mengurangi komedo, dan mencerahkan warna kulit wajah. Caranya haluskan 1 buah tomat, lalu campurkan dengan 1 sendok madu, oleskan pada wajah dan diamkan selama 15 menit. Kemudian basuhlah wajah dengan air hangat.Perawatan Wajah dengan Pisang
Buah pisang dapat bermanfaat untuk meremajakan kulit dan membuat kulit wajah menjadi lembab dan kenyal. Caranya cukup mudah, hanya dengan mengambil 1 buah pisang ambon, kupas kulitnya dan hancurkan buahnya. Setelah itu tambahkan 1 sendok madu kedalam pisang yang telah dihancurkan tadi, dan oleskan secara merata pada wajah dan diamkan selama 30 menit. Lalu bersihkan dengan kapas dan air hangat.Mentimun Untuk Perawatan Wajah
Mentimun mempunyai manfaat untuk mengangkat noda-noda hitam pada wajah dan dapat membuat wajah terlihat bercahaya. Caranya ambil 1/2 mentimun, kupas hingga bersih. Lalu tambahkan 1 sendok susu tanpa lemak, 1 sendok yoghurt. Blender semua campuran tadi hingga halus, setelah itu oleskan pada wajah selama 20 menit dan bilaslah dengan air hangat.Gimana dengan cara merawat wajah diatas ? Sangat mudah bukan, sekarang tunggu apalagi silahkan dicoba dirumah dan dapatkan kulit wajah yang sehat, bersih dan bebas dari jerawat.
Langganan:
Postingan (Atom)
